Ditulis Oleh
Dulu Dihina, Sekarang Tak Ternilai: Kisah di Balik Lukisan Claude Monet
Published at Feb 15, 2026 10.09 by rabbani
Pernahkah kamu membuat sesuatu dengan sepenuh hati, namun orang lain justru menganggapnya sebagai produk gagal atau "setengah jadi"? Jika ya, jangan berkecil hati. Kamu berada di barisan yang sama dengan salah satu pelukis paling jenius dalam sejarah manusia: Claude Monet.
Dalam dunia seni, ada sebuah momen legendaris di mana sebuah hinaan justru menjadi nama sebuah aliran besar yang kita cintai hari ini: Impresionisme. Semua itu bermula dari satu lukisan pemandangan pelabuhan yang dianggap "lebih buruk dari desain wallpaper" oleh kritikus pada zamannya. Mari kita bedah kisah di balik lukisan Impression, Sunrise (1872).
Pemberontakan di Pelabuhan Le Havre
Pada tahun 1872, Claude Monet pulang ke kampung halamannya di Le Havre, Prancis. Di sana, ia memandang ke luar jendela hotelnya saat fajar menyingsing. Di hadapannya adalah pelabuhan industri yang sibuk dengan kapal-kapal yang tertutup kabut tipis dan matahari pagi yang tampak seperti bola oranye kecil yang berani.
Monet tidak ingin melukis setiap detail kapal secara akurat karena itu tugas kamera foto yang saat itu mulai populer. Ia ingin menangkap "kesan" (impression) dari momen singkat tersebut. Bagaimana cahaya matahari memantul di air yang tenang? Bagaimana kabut mengaburkan siluet tiang kapal?
Hasilnya adalah sebuah karya yang sangat radikal pada masanya: sapuan kuas yang kasar, garis-garis yang seolah terburu-buru, dan palet warna yang tidak biasa. Monet tidak tahu bahwa karyanya ini akan menjadi pemicu perang urat syaraf dengan para elit seni di Paris.
Malam Pameran yang Penuh Hinaan
Dua tahun kemudian, pada April 1874, Monet dan sekelompok seniman "pemberontak" lainnya (termasuk Renoir dan Pissarro) mengadakan pameran mandiri di Paris. Mereka bosan ditolak oleh Salon, lembaga seni resmi yang hanya menyukai lukisan rapi, detail, dan bertema sejarah megah.
Di antara sekian banyak lukisan, Impression, Sunrise menarik perhatian seorang kritikus pedas bernama Louis Leroy. Alih-alih terpesona, Leroy justru merasa dihina oleh gaya melukis Monet yang dianggap malas.
Dalam ulasannya di koran satir Le Charivari, Leroy menulis dengan nada sinis:
"Wallpaper dalam kondisi mentahnya saja bahkan jauh lebih rapi daripada pemandangan laut ini!"
Leroy mengambil kata dari judul lukisan Monet, "Impression", dan menggunakannya sebagai ejekan untuk menyebut seluruh kelompok seniman tersebut sebagai "Para Impresionis", yang artinya pelukis-pelukis yang hanya bisa menggambar sketsa kasar dan tidak mampu menyelesaikan lukisan mereka.
Makna di Balik "Kekasaran" Sang Maestro
Bagi mata orang zaman dulu, lukisan Monet terlihat seperti coretan anak kecil. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada kecerdasan luar biasa di sana, beberapa diantaranya adalah menangkap cahaya di mana Monet menyadari bahwa warna benda berubah setiap detik tergantung posisi matahari. Ia tidak melukis "laut", ia melukis "cahaya matahari di atas laut".
Kemudian ada kecerdasan visual yang mana Impresionisme adalah tentang bagaimana mata manusia melihat sesuatu secara sekilas sebelum otak kita memproses detailnya. Terakhir adalah warna komplementer di mana kita bisa memperhatikan kontras antara matahari oranye terang dengan birunya air pelabuhan. Monet menggunakan teori warna untuk membuat lukisannya "bergetar" di mata penikmatnya. Apa yang dianggap Leroy sebagai "ketidakmampuan" sebenarnya adalah teknik yang disengaja untuk menangkap kehidupan yang terus bergerak.
Dari Hinaan Menjadi Kebanggaan Dunia
Louis Leroy mungkin akan pingsan jika ia hidup hari ini dan melihat betapa salahnya ia menilai Monet. Saat ini, Impression, Sunrise bukan hanya dianggap sebagai karya seni, melainkan monumen sejarah yang mengubah wajah seni modern selamanya.
Lukisan yang dulu disebut "lebih buruk dari wallpaper" ini sekarang menjadi koleksi utama Museum Marmottan Monet di Paris. Harganya? Tak ternilai. Namun, sebagai gambaran, karya-karya Monet lainnya sering terjual di angka jutaan hingga puluhan juta dollar di balai lelang ternama.
Impresionisme kini menjadi salah satu aliran seni yang paling dicintai oleh kolektor di seluruh dunia, termasuk bagi audiens di Indonesia. Mengapa? Karena lukisan-lukisan ini memberikan perasaan tenang, hangat, dan kebebasan, hal-hal yang sangat kita butuhkan di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Pelajaran bagi Kita: Seni Adalah Masalah Rasa
Kisah Monet mengajarkan kita satu hal penting di ARTIKNESIA: Jangan biarkan pendapat orang lain membatasi selera senimu.
Seni adalah tentang koneksi pribadi. Jika sebuah lukisan betapapum "berantakan" atau "abstrak" tampilannya bisa membuatmu merasakan sesuatu, maka lukisan itu telah menjalankan tugasnya. Apa yang hari ini dianggap remeh, bisa jadi adalah investasi emosional (dan finansial) yang luar biasa di masa depan.
Jadi, saat kamu menjelajahi galeri ARTIKNESIA dan menemukan sebuah lukisan yang membuat kamu berhenti sejenak, ingatlah Claude Monet. Berikan kesempatan pada "kesan" pertama kamu, karena siapa tahu, kamu sedang menatap sejarah baru yang sedang tumbuh.
Bagaimana menurutmu? Jangan ragu untuk berpetualang mencari "kesan” dirimu sendiri. Jelajahi koleksi lukisan bergaya modern dan kontemporer kami di ARTIKNESIA. Siapa tahu, kamu menemukan The Next Monet dari tangan seniman lokal kita.
Referensi:
Museum Marmottan Monet: History of Impression, Sunrise (1872).
Gombrich, E.H. (1950): The Story of Art (Bagian: The Revolution of Impressionism).
Louis Leroy (1874): Exhibition of the Impressionists (Le Charivari Archive).
Artsy & National Gallery: Why Claude Monet’s Impressionism Initially Shocked the World.