Home > Artikel > Ledakan Warna vs. Pecahan Logika: Memahami Perbedaan Aliran Fauvism dan Cubism

Ledakan Warna vs. Pecahan Logika: Memahami Perbedaan Aliran Fauvism dan Cubism

Published at Mar 10, 2026 12.18 by rabbani

1

​Dunia seni rupa modern di awal abad ke-20 adalah tempat yang penuh dengan pemberontakan. Jika kita melihat ke belakang, ada masa di mana para seniman mulai merasa bahwa melukis sesuatu agar terlihat persis seperti aslinya sudah tidak lagi menantang. Di sinilah lahir dua aliran besar yang mengubah wajah seni selamanya: Fauvism dan Cubism. Meskipun keduanya sama-sama mendobrak aturan lukis klasik, mereka memilih jalan yang sangat berbeda. Yang satu memilih untuk "meledakkan" emosi lewat warna, sementara yang lain memilih untuk "membedah" kenyataan lewat logika geometri.

 

​Memahami perbedaan keduanya akan membantu kamu untuk lebih mengapresiasi keunikan setiap goresan kuas yang ada di dinding rumahmu. Mari kita telusuri bagaimana dua aliran ini melihat dunia dengan cara yang unik dan revolusioner.

 

​Fauvism: Ketika Warna Menjadi Liar dan Bebas
​Fauvism lahir dari sekelompok seniman muda di Paris, dipimpin oleh Henri Matisse, yang merasa bahwa warna tidak seharusnya dipenjara oleh kenyataan. Nama "Fauvism" sendiri berasal dari kata bahasa Prancis Les Fauves yang berarti "Binatang Buas". Mengapa disebut demikian? Karena kritikus pada masa itu terkejut melihat penggunaan warna yang sangat terang, berani, dan tidak logis.

 

​Dalam lukisan Fauvism, kamu mungkin akan melihat sebuah kapal yang dicat dengan warna merah menyala atau air laut yang dipenuhi bercak kuning dan oranye, padahal aslinya tidak begitu. Bagi para pelukis Fauvis, warna digunakan bukan untuk mendeskripsikan objek, melainkan untuk mengekspresikan emosi. Mereka menggunakan kuas yang kasar dan tebal, menciptakan tekstur yang penuh energi. Jika kamu menyukai suasana yang ceria, energik, dan penuh gairah hidup, lukisan bergaya Fauvism adalah pilihan yang sempurna untuk menghidupkan suasana ruanganmu.

 

​Cubism: Membedah Dunia Menjadi Serpihan Geometri
​Hampir di saat yang bersamaan, Pablo Picasso dan Georges Braque sedang mengembangkan sesuatu yang sangat berbeda di studio mereka. Jika Fauvism bermain dengan emosi, Cubism bermain dengan intelektualitas dan perspektif. Aliran ini lahir dari keinginan untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya melihat objek dari satu sudut pandang saja. Dalam lukisan Cubism, objek dipecah-pecah, dianalisis, dan disusun kembali dalam bentuk abstrak.

 

​Coba perhatikan bagaimana Cubism menggambarkan manusia atau benda mati; wajah seseorang bisa terlihat dari depan dan samping secara bersamaan. Mereka menggunakan bentuk-bentuk dasar seperti kubus, kerucut, dan lingkaran untuk menyusun ulang kenyataan. Berbeda dengan Fauvism yang meledak-ledak dengan warna cerah, Cubism awal cenderung menggunakan warna-warna tanah yang lebih netral seperti cokelat, abu-abu, dan oker agar kita lebih fokus pada struktur dan bentuknya. Ini adalah aliran bagi kamu yang menyukai kompleksitas, logika, dan sudut pandang yang mendalam.

 

​Kontras Utama: Emosi Melawan Struktur
​Perbedaan paling mendasar yang bisa kita rasakan adalah pada tujuan utama lukisannya. Fauvism adalah tentang perasaan seketika—sebuah impresi emosional yang kuat dan instan. Lukisannya terasa "hangat" dan organik. Kita diajak untuk merasakan kegembiraan sang pelukis saat melihat cahaya matahari atau keindahan taman melalui warna-warna yang berani.

 

​Sebaliknya, Cubism terasa lebih "dingin" dan terencana. Lukisan Cubism mengajak kita untuk berpikir dan memecahkan teka-teki visual. Kita tidak hanya diajak melihat subjek, tetapi diajak untuk memahami strukturnya dari berbagai sisi sekaligus. Jika Fauvism adalah sebuah puisi yang penuh emosi, maka Cubism adalah sebuah esai filosofis yang menantang persepsi kita tentang ruang dan waktu.

 

Teknik Goresan dan Penggunaan Ruang
​Secara teknis, goresan kuas pada aliran Fauvism biasanya sangat spontan dan ekspresif. Kamu bisa melihat bekas sapuan kuas yang kasar, seolah-olah cat tersebut baru saja diletakkan dengan terburu-buru untuk menangkap momen emosional. Ruang dalam Fauvism seringkali terasa datar, karena warna-warna cerah yang digunakan cenderung saling bertabrakan dan tidak memberikan kedalaman perspektif tradisional.

 

​Dalam Cubism, goresan kuasnya lebih terkontrol dan seringkali digunakan untuk menciptakan bidang-bidang datar yang saling tumpang tindih. Ruang dalam Cubism adalah ruang yang "terkompresi". Tidak ada latar belakang atau latar depan yang jelas; semuanya berada di bidang yang sama, menciptakan ilusi tiga dimensi di atas permukaan kanvas yang dua dimensi. Teknik ini menuntut kita untuk aktif secara mental saat memandangnya, mencoba menyatukan kembali potongan-potongan visual yang terpecah.

 

Memilih Aliran yang Sesuai dengan Jiwamu
​Baik Fauvism maupun Cubism telah membuktikan bahwa seni tidak harus menjadi cermin dari kenyataan fisik. Keduanya memberikan kita kebebasan untuk melihat dunia dari sisi yang berbeda. Fauvism mengajarkan kita untuk berani mengekspresikan perasaan tanpa batas, sementara Cubism mengajarkan kita untuk melihat kebenaran dari berbagai sudut pandang.

 

​Di ARTIKNESIA, kita menghargai kedua pendekatan ini sebagai bentuk keberanian seniman dalam berkarya. Saat kamu memilih lukisan untuk menghias dindingmu, tanyakan pada dirimu: apakah hari ini kamu butuh ledakan warna untuk membangkitkan semangat, yaitu Fauvism, atau kamu butuh struktur geometri yang tenang untuk menantang pikiranmu melalui Cubism? Apa pun pilihanmu, kedua aliran ini akan selalu berhasil memberikan karakter yang kuat dan cerita yang mendalam bagi siapa pun yang memandangnya.

 

Referensi:

MoMA: Fauvism - The “wild beasts” of the early 20th century art world

Cubism: The Leonard A. Lauder Collection, The Metropolitan Museum of Art, New York, 2014

Perum. Hill Park Regency Kav 2 Jl. Bandulan Barat 65146 Kota Malang Jawa Timur, Indonesia

Made by ARTIKNESIA