Home > Artikel > Seni untuk Protes: Lukisan Guernica sebagai Suara Paling Keras Melawan Kekejaman Perang

Seni untuk Protes: Lukisan Guernica sebagai Suara Paling Keras Melawan Kekejaman Perang

Published at Mar 04, 2026 10.20 by rabbani

1

Guernica, sebuah lukisan yang seakan memancarkan teriakan yang memekakkan telinga dalam ruangan yang hening. Guernica merupakan mahakarya monumental karya Pablo Picasso yang dibuat pada tahun 1937. Lukisan ini bukan sekadar kanvas raksasa dengan bentuk-bentuk yang aneh; ia adalah sebuah manifestasi rasa sakit, kemarahan, dan protes paling keras terhadap tragedi kemanusiaan yang pernah terekam dalam sejarah seni rupa dunia.

 

​Kita sering menganggap seni sebagai alat untuk mengejar keindahan, namun melalui Guernica, Picasso membuktikan bahwa seni memiliki fungsi yang jauh lebih vital: sebagai saksi sejarah dan senjata untuk melawan ketidakadilan. Mari kita bedah mengapa lukisan hitam-putih ini tetap menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus menyuarakan kemanusiaan di tengah kekacauan dunia.

 

​Latar Belakang Tragedi: Langit yang Runtuh di Guernica
​Untuk memahami kekuatan lukisan ini, kita harus kembali ke masa Perang Saudara Spanyol. Pada 26 April 1937, kota kecil Guernica di wilayah Basque dibombardir oleh pesawat tempur Jerman Nazi dan Italia atas permintaan pasukan nasionalis Spanyol. Itu adalah serangan udara pertama dalam sejarah yang secara sengaja menyasar warga sipil yang tidak berdaya. Kota itu hancur, ribuan orang tewas, dan dunia terdiam dalam kengerian.

 

​Picasso, yang saat itu sedang mencari inspirasi untuk pesanan lukisan pemerintah Spanyol bagi Pameran Internasional di Paris, sangat terpukul oleh berita ini. Ia tidak memilih untuk menggambarkan tentara yang sedang berperang atau ledakan bom secara harfiah. Sebaliknya, ia memilih untuk menggambarkan penderitaan murni—rasa sakit yang dirasakan oleh ibu, anak-anak, dan bahkan hewan peliharaan. Dengan melakukan hal tersebut, Picasso menciptakan sebuah karya yang tidak hanya berbicara tentang satu kota di Spanyol, melainkan tentang setiap korban perang di mana pun mereka berada.

 

​Simbolisme Penderitaan dalam Bentuk yang Terpecah
​Saat pertama kali kamu melihat Guernica, kamu mungkin akan merasa pusing karena komposisinya yang kacau dan bentuk-bentuk abstraknya. Namun, kekacauan itulah intinya. Perang tidak memiliki struktur yang rapi; perang adalah kehancuran bentuk dan nyawa. Di bagian kiri lukisan, kita melihat seorang ibu yang menangis sambil menggendong mayat anaknya yang terkulai lemas. Ini adalah simbol universal dari duka yang tak tertahankan, sebuah gambaran yang masih sering kita lihat di zona konflik modern saat ini.

 

​Kemudian, perhatian kita akan beralih ke seekor banteng dan kuda yang tampak ketakutan dan terluka di tengah kekacauan. Bagi Picasso, hewan-hewan ini mewakili kemurnian alam dan budaya Spanyol yang sedang diinjak-injak oleh mesin perang. Di bagian tengah atas, terdapat sebuah bola lampu yang dikelilingi oleh pola cahaya yang tajam menyerupai mata Tuhan atau cahaya bom yang meledak. Cahaya ini seolah-olah dipaksa untuk menyaksikan kekejaman yang sedang terjadi, memastikan bahwa tidak ada kejahatan yang tetap tersembunyi dalam kegelapan.

 

​Mengapa Hitam, Putih, dan Abu-abu?
​Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa Picasso membuang semua warna cerahnya dan memilih palet monokromatik untuk karya sebesar ini. Keputusan ini sangat jenius sekaligus menyedihkan. Dengan menggunakan warna hitam, putih, dan abu-abu, Picasso memberikan kesan bahwa lukisan ini adalah sebuah berita duka cita yang mendesak, mirip dengan foto-foto di surat kabar pada masa itu. Warna-warna ini menghilangkan distraksi estetika, sehingga kita dipaksa untuk fokus sepenuhnya pada emosi dan tragedi yang sedang digambarkan.

 

​Ketiadaan warna juga menciptakan suasana yang dingin, hampa, dan tanpa harapan—persis seperti perasaan mereka yang kehilangan segalanya dalam sekejap. Picasso ingin kita merasakan bahwa saat bom jatuh, warna-warna kehidupan ikut sirna bersama debu dan reruntuhan. Ini adalah pengingat bagi kita bahwa perang tidak pernah membawa kejayaan; ia hanya membawa bayang-bayang abu-abu yang menghantui sejarah kemanusiaan.

 

Seni sebagai Tindakan Perlawanan yang Abadi
​Guernica telah berkeliling dunia sebagai simbol anti-perang. Ada sebuah cerita terkenal saat pendudukan Nazi di Paris: seorang perwira Jerman melihat foto lukisan Guernica di studio Picasso dan bertanya, "Apakah kamu yang melakukan ini?" Picasso dengan berani menjawab, "Bukan, kamulah yang melakukannya." Percakapan ini menunjukkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menampar wajah pelakunya dan memberikan pembelaan bagi mereka yang tidak bisa bicara.

 

​Melalui lukisan ini, kita belajar bahwa protes tidak selalu harus dalam bentuk teriakan di jalanan atau tulisan politik. Seni memiliki cara yang lebih halus namun mendalam untuk menyentuh nurani manusia. Guernica menginspirasi banyak seniman muda untuk menggunakan kreativitas mereka sebagai alat advokasi sosial. Ia mengingatkan kita bahwa diam adalah sekutu dari kekejaman, dan suara—sekecil apa pun, bahkan dalam bentuk goresan kuas—adalah awal dari perlawanan terhadap ketidakadilan.

 

​Membawa Semangat Guernica ke Kehidupan Kita
​Hari ini, di ARTIKNESIA, kita melihat seni lebih dari sekadar elemen dekoratif. Saat kamu memilih sebuah karya untuk dinding rumahmu, ingatlah bahwa seni memiliki kekuatan untuk menggerakkan hati dan pikiran. Meskipun mungkin kita tidak sedang hidup di tengah perang besar seperti Picasso, kita tetap bisa menerapkan semangat Guernica dengan cara mendukung seniman yang berani mengangkat isu-isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.

 

​Mari kita jadikan setiap karya seni di lingkungan kita sebagai pengingat akan pentingnya perdamaian dan empati. Seperti halnya Guernica yang tidak pernah berhenti berteriak selama puluhan tahun, semoga kita juga tidak pernah berhenti peduli pada sesama. Seni adalah bahasa universal kita untuk mengatakan "cukup sudah" pada kekejaman dan "mari kita mulai" pada kemanusiaan yang lebih baik.

 

Referensi:
Museo Nacional Centro de Arte, Reina Sofia - Guernica by Picasso

Perum. Hill Park Regency Kav 2 Jl. Bandulan Barat 65146 Kota Malang Jawa Timur, Indonesia

Made by ARTIKNESIA