Home > Artikel > Dari Jakarta ke Den Haag: Menyelami Hikayat Seni Rupa Indonesia dari Masa Kolonial

Dari Jakarta ke Den Haag: Menyelami Hikayat Seni Rupa Indonesia dari Masa Kolonial

Published at Jul 21, 2025 03.33 by ramadhan

165

Seni rupa Indonesia mempunyai pengaruh besar dari masa kolonial. Belanda datang ke Nusantara tak hanya mencari rempah-rempah, melainkan juga menyusupi seni Barat modern ke Tanah Nusantara ini. Tatkala seni rupa terus mengalami perkembangan, hubungan panjang Indonesia dan Belanda terus terjalin kuat, belum lama ini saja terdapat pameran dan simposium internasional di Den Haag yang mengangkat tentang sejarah seni rupa Indonesia dan Belanda.

 

Hikayat Seni Rupa Indonesia dan Belanda

Sejak masa penjajahan Belanda, seni rupa Indonesia bergeser arah ke aliran seni rupa ala Barat: mulai dari teknik dan gaya lukisan yang khas dan beragam. Pengaruh Eropa semakin menguat di sektor seni rupa, tercermin dari kebiasaan para pedagang kolonial yang gemar membawa lukisan pemandangan atau potret sebagai bingkisan bagi para penguasa lokal. Bahkan, Belanda semakin mengintensifkan pengaruhnya dengan membuka sekolah lukis pada abad ke-19, yang cenderung melukis tema-tema etnis dan menjadi cikal bakal seni rupa modern di Indonesia.

 

Tak hanya berhenti di fasilitas yang mereka bangun. Lebih-lebih, para seniman cakap Belanda ramai berduyun-duyun datang ke Indonesia, contohnya Marius Bauer, WOJ Niewkamp, Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan banyak lagi. Kedatangan mereka menghasilkan konsep lukisan pemandangan dengan berbagai gaya, mulai dari naturalisme, realisme, impresionisme, hingga post-impresionisme. Aliran ini kemudian dikenal sebagai Mooi Indie (Hindia Molek), sebuah istilah yang dicetuskan oleh pelukis Indonesia Sindudarsono Sunjoyo, atau yang lebih akrab disapa Sujoyono.

 

Doktrinasi seni rupa ala Barat ini turut melahirkan seniman pribumi kondang dan bersejarah, seperti Raden Saleh dengan karyanya yang terkenal 'Penangkapan Pangeran Diponegoro' dan Basuki Abdullah melalui 'Perkelahian Antara Rahwana dan Djatayu Memperebutkan Shinta'. Pergeseran tema tidak lagi mengandalkan pemandangan alam sesuai keinginan Sujoyono. Karena bagi beliau melukis harus melatarbelakangi kesadaran sosial dan politik. Bagi Sujoyono, di masa itu seni harus menjadi penentang suara penderitaan rakyat, bukan lagi sekadar pelukis Mooi Indie yang hanya tertarik pada keindahan alam semata.

 

Hubungan Panjangan Seni Rupa Indonesia dan Belanda

Seni rupa terus mengalami pertumbuhan, dan di era kini, ia tak lagi sekadar entitas yang diisolasi oleh komunitas atau personal. Sebaliknya, seni rupa dapat menjadi simbol penting dalam hubungan bilateral antarnegara, seperti yang tengah terjalin antara Indonesia dan Belanda saat ini. Pada Jumat, 13 Juni 2025 terdapat pameran dan simposium yang bertajuk “Verleden- Heden: Past Present, Art Schools in Indonesia” dengan memamerkan perkembangan seni dan budaya Indonesia dari masa lalu hingga kini.

 

Pameran ini menyajikan perjalanan visual dan naratif yang komprehensif melalui arsip, karya seni, dan kisah-kisah dari institusi seni ternama seperti Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknik Bandung (ITB), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan ISI Bali. Dalam pameran ini turut memamerkan karya-karya dari tokoh-tokoh besar dalam sejarah pendidikan seni Indonesia, termasuk R.J. Katamsi, salah satu pendiri ISI Yogyakarta, dan Simon Admiraal, tokoh penting dalam perkembangan seni rupa modern di ITB.

 

Pameran "Verleden-Heden: Past Present, Art Schools in Indonesia" di Den Haag ini bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan sebuah ruang dialog antar bangsa yang berharga. Melalui medium seni rupa, Indonesia dan Belanda kembali merajut kisah sejarah yang panjang, tidak hanya merefleksikan masa lalu yang sarat pengaruh kolonial, tetapi juga mengukir narasi masa kini yang lebih kolaboratif dan setara. Karya-karya yang dipamerkan, mulai dari arsip historis hingga interpretasi kontemporer oleh seniman masa kini, menjadi jembatan yang menghubungkan dua peradaban. Ini adalah kesempatan emas bagi kedua belah pihak untuk memahami, mengapresiasi, dan bahkan menginterogasi warisan bersama, membuka wawasan baru, dan memperkuat hubungan bilateral yang harmonis melalui bahasa universal seni.

Perum. Hill Park Regency Kav 2 Jl. Bandulan Barat 65146 Kota Malang Jawa Timur, Indonesia

Made by ARTIKNESIA